oleh

Rubrik Alinea Riau Pos Edisi 24 Juli 2022 – Bahasa Melayu, Dunia Perdagangan, dan Warisan Kebudayaan

Bahasa Melayu, Dunia Perdagangan, dan Warisan Kebudayaan

Oleh Marhalim Zaini

(Sastrawan, Ketua Umum Asosiasi Seniman Riau)

Bahasa Melayu yang kini ‘dikembangkan’ orang Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa yang telah sekian abad mengemban fungsi tidak hanya sekadar lingua franca, tetapi juga sebagai medium penyebar segala jenis ilmu pengetahuan. Tentu kita juga sepakat bahwa segala bentuk pandangan hidup yang bekerja dalam sistem sebuah warisan budaya juga dapat kita telisik dari bahasa. Buktinya, bahasa Melayu adalah bahasa sumber yang sebagian besar dipakai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Begitu pula ketika kita menyebut sastra lama Indonesia, yang juga akan selalu bermuara pada sastra Melayu.

Braginsky, penulis buku Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal, Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19 (1998) menyebut bahasa Melayu sejak dahulu tidak hanya merupakan bahasa bagi etnis tertentu, tetapi juga sebagai sarana hubungan perdagangan, kebudayaan, dan keagamaan bagi penduduk di kawasan yang mempunyai bahasa-bahasa.

Dengan demikian, bahasa Indonesia yang kita pakai untuk berkomunikasi hari ini bukanlah bahasa yang mati, statis, pasif, dan hanya berkedudukan sebagai bahasa seremonial saja. Akan tetapi, ia ‘bergerak’ ke (di) wilayah di balik ‘tubuh’ bahasa itu sendiri. Ia ‘menyimpan’ sebuah warisan kebudayaan yang demikian istimewa.

Serangkaian aktivitas yang saling memberi pengaruh yang disebut Braginsky di atas (perdagangan, kebudayaan, dan kegamaan) merupakan sebuah proses membangun dunia peradaban maritim. Mulai abad ke-5, negeri-negeri Melayu telah mengambil peran yang besar dalam dunia perdagangan internasional dan antarpulau. Terutama ketika Selat Malaka—sebagai salah satu penghubung perdagangan selain Selat Sunda, Laut Jawa, Laut Makasar, Laut Maluku—yang menyatukan daerah pantai Timur dan pantai barat Semenanjung menjadi jalur perdagangan laut bahkan sejak abad ke-1 M.

Sebelum Portugis menguasai kerajaan Malaka (1511)—seturut dengan catatan Tome Pires yang pernah tinggal di Malaka (1512-1515)—pelayaran dan perdagangan sangat ramai dengan sistem perdagangan yang terbesar di zaman itu. Pires menggambarkan sistem pelayaran berikut komoditas perdagangannya yang telah dihubungkan oleh peran Malaka, dengan jalur-jalur: ke Barat sampai India, Persia, Arab, Syria, Afrika Timur, dan Laut Tengah. Ke Utara sampai Siam dan Pegu. Ke Timur sampai China dan Jepang.

Keragaman budaya, agama, etnis, yang tentu juga keragaman bahasa para saudagar yang datang ke Melaka, memberi “laluan” tersendiri bagi bahasa Melayu untuk mengambil peran sebagai bahasa pengantar dalam komunikasi. Bahkan, pada perkembangannya, bahasa Melayu diakui sebagai bahasa yang unggul dalam bidang ilmu, perdagangan, diplomasi, dan agama, dan sastra. Menurut Collin dalam bukunya Bahasa Melayu, Bahasa Dunia (2005), peran dan posisi bahasa Melayu benar-benar melampaui cakupan fungsi dan bahasa-bahasa yang diketahui yang ada di Eropa.

Dalam konteks perdagangan, Reid (dalam Collin, 2005: 32) menyimpulkan secara lebih spesifik bahwa posisi istimewa bahasa Melayu pada “Abad Perdagangan” merupakan bahasa perdagangan di Asia Tenggara. Para penduduk yang datang dari kota besar perdagangan diklasifikasikan sebagai orang Melayu karena berbicara dalam bahasa Melayu dan beragama Islam. Tidak penting mereka dari keturunan Jawa, Mon, India, Cina, atau Filipina. Reid menyebut, “mereka yang berjualan dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan besar berbicara dalam Bahasa Melayu, seperti berbicara dalam bahasa mereka sendiri.”

Orang Riau tentu pantas berbangga, terutama karena bahasa Melayu tersebut berasal dari Riau. Seorang Belanda bernama Van der Puten sempat menandaskan posisi penting Riau dalam pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-19. Ia menyebut begini, “Riau memiliki ‘komoditas langka’ yang diperlukan pihak Belanda: yakni bahasa. Mereka percaya bahwa Riaulah tempat untuk memperoleh informasi tentang bahasa Melayu dalam bentuknya yang paling asli dan murni.” Dan kita tahu, bahwa kemudian bahasa Melayu pun menjadi medium yang paling efektif untuk menyebar-luaskan pemikiran-pemikiran Barat.

Namun satu hal yang patut diingat, bahwa tentu saja yang dibutuhkan oleh Belanda saat itu adalah bahasa tulisan Riau, yang kemudian dijuluki sebagai ‘bahasa Melayu tinggi.’ Konsekuensinya, bahasa Melayu tinggi itu pun harus ‘dijinakkan’ supaya klop dengan logika Belanda sehingga ‘bau keringat’ warisan budaya Melayunya tak terasa ‘asin’ lagi. Kenyataannya, itulah bahasa baku yang kini masih kita’lidahkan’.

Salah seorang pengkaji (terutama dari Barat) yang dengan gigih mengulas tentang teks-teks Melayu lama (yang tertulis) yang kemudian menyuguhkannya kembali kepada kita hari ini adalah Amin Sweeney, seorang profesor emeritus dalam bidang pengkajian Melayu dari Universitas California, Berkeley. Dalam beberapa kajiannya, Sweeney menguraikan ulasan-ulasan kritisnya terhadap karya-karya Abdullah Munsyi dalam buku Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (2005).

Peninggalan persuratan yang terukir di prasasti-prasasti batu dari abad ke-7 sampai abad ke-14 misalnya, atau 8.000 sampai 10.000 naskah yang ditemukan setelahnya merupakan bukti bahwa usia sastra dan kebudayaan Melayu ini sudah demikian tua. Bukti lain, yang menunjukkan bahwa sastra Melayu pun berperan dalam menjalin “komunikasi kreatif” melalui bahasa dengan bangsa lain adalah dari nuansa sastra asing yang diserapnya, misalnya India, Arab, dan Parsi.

Jika Braginsky pernah menyebut bahwa dasar tradisi kebudayaan bangsa Melayu ialah sastra, kita segera percaya bahwa bahasa Melayu melalui karya sastranya adalah juga menjadi sarana hubungan kebudayaan yang penting. Sebab, sejarah perkembangan sastra Melayu—baik sastra lisan (orality) maupun sastra tulis (literacy)—seperti berjalan seiring dengan proses terbentuknya kebudayan Melayu itu sendiri dan menjadi warisan kebudayaan hingga kini.***

 

                                   

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.