oleh

Rubrik Alinea Riau Pos Edisi 2 Oktober 2022 – Jodoh

Jodoh

Oleh: Darmawati M.R.

(Peneliti bahasa pada Pusat Riset Bahasa, Sastra dan Komunitas, BRIN)

 

 

Apakah Prabowo sedang mencari istri lagi? Pertanyaan itu muncul ketika saya membaca judul salah satu laporan utama majalah ibu kota edisi 4 Juni 2022, “Lirik-lirik Jodoh Prabowo”.

Saya lalu paham bahwa jodoh yang dimaksud dalam berita tersebut bukanlah pasangan hidup melainkan pasangan untuk tampil pada pilpres 2024. 2024 masih jauh, tetapi panggung kampanye telah digelar. Diam-diam. Terang-terangan.

Judul-judul serupa juga muncul di beberapa media lain: “Mereka Jodoh-jodohan 2024 di Panggung Milad PKS” (news.detik.com, 30 Mei 2022); “Cari Jodoh untuk Pemilu 2024, Sekjen PKS: Pak Muhaimin, Pak Anies, Pak Sandi Jangan Kaget  Kalau Dilamar” (kompas.com, 29 Mei 2022); “Lihat PKS yang Genit Cari Jodoh untuk 2024, Goda Cak Imin-Anies hingga AHY di Acara Puncak Miladnya” (palopopos.facar.co.id, 29 Mei 2022); “Bukan Pilpres 2024, Duet Khofifah-Ganjar Carikan Jodoh Para Jomblo yang Curhat di Instagram” (m.clicks.id, 4 Juni 2022); dan “Cari Jodoh Koalisi Demi Kursi (kompasiana.com, 4 Juni 2022).

Dalam urusan jual beli, juga perihal undang-mengundang pembicara, terkadang kita menjumpai ucapan “semoga berjodoh”. Bagaimana kamus bahasa Indonesia kita menerangkan kata ini?

Mari kita tengok arti lema jodoh dalam  KBBI Daring: 1 orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan: berhati-hatilah dalam memilih —; 2 sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: mana — sepatu ini; dan 3 cocok; tepat: ia telah meminum obat itu, tetapi tidak —. Dapat kita lihat, arti kedua kata jodoh—pasangan—adalah kata yang paling mendekati kata jodoh pada judul-judul berita tersebut, dalam hal ini pasangan politik. Judul-judul berita itu menunjukkan bahwa bahasa sewaktu-waktu dapat dibengkokkan. Pada zaman ketika “klik” berarti pendapatan bertambah, kata jodoh Prabowo, jodoh Puan, jodoh Anies dapat “mengundang klik”, juga googleable.

Dalam buku Loan Words in Indonesian and Malay karangan Russel Jones, kata jodoh diserap dari bahasa Tamil. Lalu, pada tesaurus.kemdikbud.go.id, kata jodoh berkorelasi makna dengan kawin dan cerai, dengan penjelasan: berkawin, berbaur (ki), berjodoh, berkeluarga, berumah tangga, bertemu jodoh, mengikat janji, naik (ke) pelaminan, nikah (cak), menempuh hidup baru, menikah; berbini, beristri; berlaki, bersuami, berakhir, bercerai, berpecah, berpisah, bererak, bersarak, habis jodoh. Dari semua penjelasan itu, tak satu pun yang merujuk pada pasangan politik. Padahal dari segi tingkat penggunaannya, jodoh yang bermakna pasangan politik semakin intens dipakai.

Berbicara perkara jodoh, ada satu tradisi yang dulu kental di Masyarakat Riau khususnya yang bermukim di Desa Kuok, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar. Tradisi itu disebut menggelek tobu atau menggiling tebu. Alat yang digunakan disebut gelek tobu, sebatang kayu panjang yang hanya bisa digerakkan oleh beberapa orang (biasanya sampai sepuluh orang.  Ajang ini dijadikan kesempatan bagi anak-anak muda mencari jodoh: dari yang awalnya saling pandang saat menggelek tobu, tangan yang bersentuhan tak sengaja, hingga timbul rasa saling menyukai.

Masih perkara jodoh, acara lamaran di beberapa daerah di Indonesia diwarnai dengan bertukar pantun dan ungkapan. Pada momen seperti ini, salah berkata dapat berakibat fatal, bisa saja lamaran batal. Mungkin itu sebabnya dipilih juru bicara yang pandai merangkai kata.

Ke timur Indonesia, di Desa Sade, ada tradisi tak kalah unik perihal jodoh. Seorang laki-laki harus membawa kabur perempuan yang disukainya jika ia ingin menikahi perempuan tersebut. Perempuan yang dibawa kabur pun pantang kembali ke rumah orang tuanya. Ia sama saja mencoreng nama baik keluarga.

Dalam budaya Bugis, ada yang namanya parekkuseng, kunci pintu jodoh. Seorang gadis di sana tidak akan menikah jika ada yang mengunci pintu itu. Dalam salah satu mitos yang berkembang di sana, jika seorang gadis berkunjung ke Goa Mampu (35 kilometer dari Kota Watampone, Sulawesi Selatan) dan terjatuh, konon jodohnya akan segera datang.  Jika seorang gadis menikah, pada malam mappaccing (memakai daun pacar untuk membersihkan diri), ada ritual memakai bedak tumbuk. Bedak itu akan dibalurkan kepada perempuan yang belum menikah dengan harapan, mereka akan segera menyusul mempelai ke pelaminan.

Dalam budaya mandi lemon seorang gadis yang sudah akil balig di Gorontalo, pun ada ritual untuk menelisik jodoh—memecahkan telur mentah di telapak tangannya untuk menyingkap keberadaan jodoh: dekat atau jauh.  Masih di Gorontalo, ada pasar dan jembatan yang bernama Pasar Jodoh, dan Jembatan Jodoh. Konon banyak yang bertemu jodohnya di kedua tempat itu. Selain di Riau, Makassar, dan Gorontalo, saya yakin di daerah lain masih banyak kosakata dan tradisi khas yang tersangkut paut dengan perkara jodoh.

Bahasa Inggris mengenal kata mate (māt) untuk jodoh. Namun mate juga bisa diartikan sahabat karib, teman baik, istilah anak muda sekarang, bestie. Mate juga berarti cocok, setara. Ada turunan kata mate, yaitu soulmate yang dipadankan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “belahan jiwa”.  Soulmate konon tidak selalu pasangan (suami atau istri). Ia bisa jadi siapa saja, bisa jadi saudara, atau sahabat.

Jodoh serupa urusan hidup dan mati. Barangkali karena ini menyangkut keberlangsungan ras manusia di muka bumi. Ibarat perjalanan dan ibadah, urusan yang satu ini memerlukan biro (kamus kita juga merekam lema ini). Pada zaman koran cetak berjaya, ada kolom Kontak untuk mewadahi kebutuhan pembaca menemukan jodohnya. Di era digital, biro jodoh tergantikan oleh berbagai aplikasi kencan, dijadikan lahan menipu dan akhirnya The Tinder Swindler menjumpai kita di Netflix. Jodoh juga menjadi tolok ukur kesuksesan. Sesukses apa pun seseorang (terlebih lagi jika ia perempuan), selama ia belum bertemu jodoh, ia masih belum “dianggap”. Di Indonesia, laki-laki atau perempuan yang terlambat menikah akan selalu jadi bahan pergunjingan di setiap acara kumpul keluarga.

Kembali ke perkara politik, lirik-lirik jodoh politik akan terus memenuhi lini masa kita dalam beberapa waktu ke depan. Semuanya serba mungkin. Mereka yang bermusuhan empat tahun lalu, bisa saja jadi bestie pada 2024 mendatang.

Pada akhirnya, kita dipaksa sejalan, jodoh dalam politik tak selalu sepanjang garis takdir pernikahan. Ia seumur kepentingan semata, seberapa banyak keuntungan berikut reken-reken atas nama elektabilitas. Pokoknya, ia sosok yang mampu mengimbangi dari segi ideologi, idola generasi kiwari, wakil penduduk mayoritas negeri, punya banyak pengikut di media sosial plus partai pendukung yang solid.

Satu yang pasti, jodoh menjadi perihal yang selalu misterius. Tahun ini bisa saling membenci, empat tahun mendatang siapa yang tahu? Satu hal yang pasti, KBBI Daring perlu merevisi lema jodoh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.