oleh

Rubrik Alinea Riau Pos Edisi Ahad 30 Oktober 2022 – Lapis-Lapis Karya Sastra

Lapis-Lapis Karya Sastra

Oleh :Teguh Wibowo

(Teguh Wibowo, lahir di Trenggalek, 11 September 1990. Menulis karya fiksi dan nonfiksi. Karyanya pernah dimuat di rubrik ALINEA harian Riau Pos, Republika, Media Indonesia, Koran Sindo, Padang Ekspres, dll)

Teguh_Wibowo - Lapis-Lapis Sastra

Sastra adalah bagian dari disiplin ilmu yang memiliki derajat tinggi. Keberadaan sastra bagi suatu peradaban memiliki garis edar sendiri. Sastra mampu merekam fenomena-fenomena sosial yang tidak terjangkau dari pandangan masyarakat, mengangkat nilai-nilai kehidupan yang arif dan bijaksana, serta memperhalus budi pekerti dan memperkuat nalar. Sastra juga berperan sebagai alat perjuangan dalam wujud solidaritas. Bisa menjadi penawar atau obat bagi luka-luka bangsa.

Karya sastra merupakan hasil kreativitas atau hasil ciptaan perasaan dan pikiran pengarang melalui media bahasa berupa kata-kata. Pada dasarnya, karya sastra (fiksi) tidak diciptakan dari sebatas imajinasi atau khayalan, tetapi juga melalui ide yang lahir dari kehidupan nyata sehari-hari.

Horatius mengungkapkan bahwa fungsi karya sastra sebagai dulce et utile (menghibur dan menanamkan nilai-nilai kebaikan). Itulah semboyan yang harusnya menjiwai setiap penciptaan karya sastra. Harus terkoneksi antara penulis dengan pembaca atau kritikus sastra dengan pengarang.

Karya sastra mengandung nilai-nilai yang tercermin dari kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu tumbuh secara alami yang dibawa oleh pengarang ke dalam karyanya. Diolah dalam riset, pengamatan, dan perencanaan. Dirawat dalam ingatan, rekaman, dan tulisan. Dari karya itu, pengarang juga membawa pengaruh melalui pemikirannya yang dituangkan dalam karyanya itu. Bisa jadi para penikmat sastra selalu menantikan karya-karya baru dan orisinal.

Suroso, dkk (2008: 75-77) dalam bukunya Kritik Sastra menjelaskan bahwa dalam menilai karya sastra haruslah dilihat hubungan antara sastrawan dengan karya sastranya sebab karya sastra merupakan penjelmaan pengalaman jiwa sastrawan ke dalam suatu karya dengan medium bahasa. Tolok ukurnya: apakah sastrawan berhasil atau tidak menjelmakan pengalaman jiwanya ke dalam bentuk kata-kata? Hal ini baru dapat dijawab dengan dalil J. Elema dalam bukunya Poetica.

  1. Elema melihat hubungan antara pengalaman jiwa diungkapkan ke dalam kata. Dengan dasar itu, ia mengemukakan dalil-dalil dalam seni sastra. Pertama, karya sastra mempunyai nilai seni apabila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata-kata. Nilai seni itu akan bertambah tinggi apabila pengalaman itu semakin lengkap. Kedua, pengalaman jiwa itu semakin tinggi nilainya apabila pengalaman itu semakin banyak, meliputi keutuhan jiwa. Ketiga, pengalaman jiwa semakin tinggi nilainya apabila pengalaman itu makin kuat. Keempat, pengalaman jiwa itu semakin tinggi nilainya apabila isi pengalaman itu semakin banyak, luas, dan jelas perinciannya.

Subagio Sastrowardojo lebih lanjut menjelaskan tentang dalil seni sastra ala J. Elema tersebut dengan analisis ilmu jiwa modern. Ia menjelaskan jiwa manusia dan juga pengalaman jiwa manusia itu terdiri atas lima tingkatan atau niveau. Begitu juga, sebuah karya sastra yang baik dan lengkap, setidaknya memiliki lima tingkatan lapis makna atau lapis jiwa.

Nilai-nilai tersebut dimulai dari tataran yang paling rendah sampai pada tataran yang paling tinggi. Adanya kelima tingkatan struktur lapis makna atau lapis jiwa merupakan indikator sejauh mana kualitas karya sastra yang ditelaah. Kelima niveau tersebut adalah niveau anorganis, niveau animal, niveau vegetatif, niveau human, dan niveau religi atau spiritual.

Niveau anorganis adalah tingkatan jiwa yang terendah dan sifatnya seperti benda mati yang merupakan hal-hal yang langsung bisa diindera karena visualitas dan ketampakannya. Dalam telaah puisi dapat dilihat melalui bentuk tipografi, susunan kata dalam baris, susunan baris dalam bait, rumus sajak, dan lain-lain. Dalam prosa dapat dilihat dari aspek pengalimatan, penyusunan paragraf, dan perwujudannya.

Niveau vegetatif adalah tingkatan jiwa seperti tumbuh-tumbuhan. Mengungkapkan adanya kehidupan yang alami dan naluriah. Apabila pengalaman jiwa vegetatif ini terjelma dalam karya sastra akan menimbulkan suasana sedih, gembira, romantis, syahdu, khitmad, dan sebagainya yang ditimbulkan oleh rangkaian kata-kata itu.

Niveau animal adalah tingkatan jiwa seperti yang dicapai oleh binatang. Melukiskan nilai-nilai yang sudah dicemari nafsu-nafsu rendah, keserakahan, kebinalan, kemesuman, kekejian, sampai hal-hal yang tercela. Apabila tingkatan jiwa animal ini terjelma dalam karya sastra akan berwujud seperti nafsu tokoh untuk melahap habis makanan dan minuman yang tersedia, bermalas-malasan, ingin tiduran, bercinta atau bermesra-mesraan, bahkan nafsu dendam untuk membunuh lawan atau tokoh lainnya.

Niveau human adalah tingkatan jiwa yang hanya dapat dicapai oleh manusia. Apabila tingkatan jiwa human ini terjelma dalam karya sastra dapat berupa perbuatan seorang tokoh menolong tokoh lain, kasih sayang seorang tokoh kepada tokoh lain, renungan-renungan batin, konflik kejiwaan, renungan moral, dan sebagainya. Pendek kata segala pengalaman yang hanya dapat dirasakan oleh manusia yang penuh suka dan duka.

Niveau religius/filosofis adalah tingkatan jiwa yang tertinggi dan pengalaman jiwa ini tidak dialami oleh manusia dalam sehari-harinya yang merupakan tingkatan perwujudan kesadaran manusia akan adanya “nilai-nilai yang lebih tinggi” daripada hal-hal yang tampak di permukaan dan keseharian. Apabila pengalaman jiwa ini terjelma dalam karya sastra akan terwujud sebagai renungan-renungan terhadap hakikat makna dan tujuan hidup, hal-hal yang transendental dalam kehidupan manusia, masalah maut, filsafat ketuhanan, dan lain sebagainya.

Demikianlah, nilai-nilai yang diangkat dalam karya sastra menjadi daya tarik tersendiri. Di sinilah pentingnya belajar sastra dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penciptaan karya sastra hendaknya mementingkan adab, nilai, dan manfaat yang baik agar dapat tersampaikan kepada setiap nurani manusia.

Manusia membutuhkan karya sastra yang bermutu dan bernilai. Karya sastra yang mengedepankan pencerahan serta bermanfaat terhadap peradaban dan kehidupan manusia. Bukan hanya sebagai pengingat bagi individu, melainkan juga kelompok masyarakat. Bukan sebatas manfaat duniawi, melainkan juga ukhrawi.  Bukan saja esensi fisik dan lahiriah, melainkan juga mental dan batiniah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.